pokerepublik
pokerlounge

Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community
sarana99 855Online sarang303

 

 

RumahTaruhan88 Saranapoker idr77





Alpha4D Bola54
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Results 1 to 7 of 7
  1. #1
    Tukang Ngintip chimax's Avatar

    Join Date: Feb 2010

    Posts: 77

    Thanks: 3

    Thanked 171 Times in 30 Posts

    Default Maemunah dan dua bandot tua (3)

    Pak Is mulai bertindak dengan pekerjaannya yang tertunda. Dia meremas-remas tetekku, kemudian Uztad Mahmud yang baru datang akan mengoleskan mentega pada lubang pantatku namun aku mencegahnya dan meminta dia untuk menggantinya dengan baby oil yang ada di atas meja riasku. Dan hal itu membuat Uztad Mahmud tertawa keras lalu dengan cekatan dia mengoleskannya pada lubang pantatku dan juga pada kontolnya yang sangat panjang dan berurat itu. Kemudian ia memposisikan kontolnya pada lubang pantatku dan dengan beberapa tekanan dia berusaha menerobos lubang pantatku. Aku merasakan sangat sakit tetapi aku sudah tidak melawan lagi. Uztad Mahmud mendorong paksa kontolnya dan posisi Pak Is di depanku membuatku terdorong mundur. Aku merasakan sesuatu yang besar dan kuat berada di pantatku. “Aaaaaaawwwww...... sssaa...kkiiittthhh… aamm...mppuunnhh........” aku melepaskan kontol Pak Is dari mulutku. Uztad Mahmud sengaja mendiamkan kontol besarnya beberapa saat, membiarkanku agar terbiasa. Setelah beberapa menit Uztad Mahmud mulai mendorong lagi kontolnya. “Aaauuuhhhh…...... Jjaaa...nngaaannn......” aku berteriak kembali, rasanya sangat sakit. Seluruh kontol Uztad Mahmud telah masuk dan merobek pantatku, terasa ada sedikit darah mengalir dari lubang pantatku. Aduh! Kontolnya itu sangat besar sehingga terasa sangat ketat di lubang pantatku! “Aauuuhhhhh...... aduuhh...... Aaaawwwwww.....ssshhhh.... aaaa....aadduuuhhhh… tolong...... aku akan mati… Kau merobek pantatku...... rasanya punggungku mau patah… Kau Bajingan!” Aku menjerit dengan suara nyaring tetapi mereka berdua hanya diam dan mulai beraksi lagi. “Sekarang kontolku sudah masuk, Pak Is… kamu boleh meninggalkan aku sekarang.” Uztad Mahmud berkata pada Pak Is. Pak Is hanya menganguk. “Baiklah, aku akan menonton pertunjukanmu…. Mbak Mae, sekarang anda adalah bagiannya.” Pak Is sekali lagi mencium tetekku dan meninggalkanku. Dia duduk di kursi meja rias dan menonton perbuatan Uztad Mahmud terhadapku. Sekarang aku sepenuhnya dipermainkan oleh Uztad Mahmud. “Kau wanitaku sekarang, aku akan membuatmu merasakan sensasi yang sangat menyenangkan… aku akan membuatmu ketagihan… kau akan jadi budak kontolku.” Uztad Mahmud sesumbar. “Sudahlah… kumohon keluarkan kontolmu… aku tak tahan lagi…. Sakit…. Rasanya aku hampir mati” terasa air mataku menitik. “Aku tidak akan membiarkanmu mati…. Nikmati saja… sebentar lagi akan terasa lebih nikmat.” Uztad Mahmud berbisik sambil menjilat dan menggigit pelan telingaku dari luar karena aku masih dibiarkannya berjilbab. Dia lalu meraih kedua buah tetekku yang menegang dan meremas-remasnya. Kemudian ia mencabut pelan kontolnya separuh, lalu mendorongnya dengan kekuatan besar. “Jangan…. Tolong hentikan.. aku mau mati…. Hentikan sebentar…. sakit!” Aku mulai merintih tetapi ia tidak mendengarkanku dan tetap menggenjot pantatku dengan penuh nafsu. Aku roboh! Uztad Mahmud tetap memperkosaku tanpa mendengarkan aku dan dia memegang pinggulku dengan tangannya dan menggenjotku dengan cepat. Selama memperkosaku, kontolnya menyentuh bagian sensitifku dan membuatku merasakan getaran-getaran lembut dan menyenangkan. Aku mulai berpikir lagi, dalam kondisi tanpa pengharapan dan tak seorangpun dapat menolongku, mengapa aku tidak sekalian saja menikmati kontol super ini. Pelan-pelan aku mulai menikmati gesekan kontol Uztad Mahmud pada pantatku, aku mulai menggoyangkan pinggulku. Kelihatannya Uztad Mahmud menyadari perubahan dalam diriku. “Ayoo.... sayang..... nikmatilah....... Aaughhhh… enak sekali… betapa sesaknya pantatmu......” ceracau Uztad Mahmud. Aku menggoyangkan lagi pinggulku, rasa sakit yang kuterima tadi kini berangsur-angsur tidak terasa lagi. Uztad Mahmud kini meningkatkan kecepatannya dan aku juga. Tetekku menggantung ke depan dan ke belakang, berputar-putar mengguncang-guncang akibat genjotan Uztad Mahmud. Kurasakan kontol Uztad Mahmud sangat keras dan kuat di dalam pantatku. Llihat… sekarang Mbak Mae mulai menyukainya kan.” Pak Is berkomentar kepadaku. Uztad Mahmud terus menggenjot pantatku, aku mulai menyukai permainannya. “Uztad Mahmud… anda memang laur biasa.. anda bisa menaklukkan wanita manapun. Aku salut padamu.” Pak Is malah terkagum-kagum pada Uztad Mahmud. “Sebentar lagi, Mbak akan jadi wanita budak kontol kami.” Pak Is tertawa. “Kurang ajar….” Hatiku berteriak tetapi badanku masih bergerak-gerak mengikuti irama genjotan kontol Uztad Mahmud. “Aaauuugghhh....... oookkhhhhh...... aaaakkhhhh....” aku merintih-rintih tak sadar Tangan Uztad Mahmud meremas-remas tetekku dengan lembut, jari tangannya memilin-milin puting tetekku dengan perlahan-lahan sambil sesekali jarinya dijentik-jentikkan pada puting tetekku. Rabaan tangannya membuatku makin terangsang. Perlahan-lahan tangannya bergeser ke bagian kewanitaanku. Jari-jarinya dengan kasar menyentuh memekku. “Oohhhh….hhhhhhh.......ssshhhh..... Hhhmmm…….” Tanpa sadar aku menggigil dan merintih. Aku merasakan kenikmatan yang lain dalam diriku. Jari-jarinya bermain-main di clitorisku. Darahku seperti berkumpul di titik sensitif itu. “Aaauuukkkhhhh...... hhaaahhh...haahhhhh…. Hhmmm… Oohhhhh…. Nikmaatthh......” tak tahan aku dibuatnya. Tubuhku rasanya semakin melayang. Setelah beberapa saat, tubuhku menggelinjang dan berkelojotan sesaat. Air maniku tumpah… aku orgasme. Ssseerrr.... sseerrrrrr..... “Mmmmpphhhh.....Uuusshhh...ttaaddddhhhhh.... Ouchhhhh...aakh..akkhh..aaahhhhh...” lolongku panjang saat gelombang kenikmatan itu melanda diriku. “Teruskan sayang… jangan ditahan… aku akan memberikan kebahagiaan untukmu.” Antara sadar dan tidak aku mendengar Uztad Mahmud berbisik ditelingaku. Dalam permainan ini aku berkali-kali orgasme, tapi sepertinya Uztad Mahmud mempunyai stamina yang luar biasa. Aku merasa kelelahan tetapi merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah aku raih, setelah 20 menitan kemudian tiba-tiba terasa kontol Uztad Mahmud mengeras, berkedut-kedut hangat. Jari-jarinya makin menekan dan menggesek-gesek clitorisku. “Oorrggghhhh…. Aaa....kkkuuuu....... kkeee....lluuuaaarrrr…hhhhh....” akhirnya Uztad Mahmud berteriak. “Oucchhhh…nikmaatttnya… keluaarrr....kkaaannn... didalam saja, tee..rruussskannnhh… jangan.... keluarrrkkaannhh... koon...nntolmuuu... Uuuhhhhh....ssshhhhh....” Aku tak sadar setengah berteriak. Uztad Mahmud tertawa dengan penuh kemenangan. Cairan hangat menyemprot, memasuki lubang pantatku. “Aaauuwwww……aaarrgghhh....aakh..akh..aakkhhhh....h hhhh...” Akupun orgasme bersamanya. Rasanya nikmat sekali. Uztad Mahmud masih menduduki pantatku beberapa saat lalu mencabut kontolnya. “Ploop….” Terdengar bunyinya. Pak Is dan Uztad Mahmud tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Aku menghembuskan nafasku dan merasa sangat nikmat. Sekarang jam 9 malam. Tadi malam aku merasakan kenikmatan bersama Pak Is. Dan malam ini aku merasakan kenikmatan bersama Uztad Mahmud. Aku menjadi teramat ketagihan. Selama ini aku belum menemukan sensasi yang luar biasa nikmat dengan beberapa kontol lelaki. Tapi sekarang, aku sepertinya keranjingan berhubungan sex. Aku ingin mendapatkan lebih. Aku ingin yang lebih mengasyikkan….dan aku ingin merasakan kontol-kontol lelaki memasuki setiap mili lubang-lubang kenikmatanku. Ohhh.... “Pak Is, aku akan istirahat……. Aku sungguh sangat puas” Uztad Mahmud berkata. “Mbak Mae, anda sungguh sangat mengagumkan….” Aku tersenyum mendengar pujian dari Uztad Mahmud. “Istirahatlah…” Pak Is menjawab. “Tunggu dulu….Uuzzttaaddd....” aku setengah berteriak kepada mereka berdua. Mereka menatap wajahku dengan heran. “Kau telah memperkosa lubang pantatku, aku telah memberikannya. Tapi sekarang aku menginginkan lebih… aku ingin merasakan kontol Uztad di dalam memekku. Aku ingin merasakan kontol besar punyamu.....” Aku telah gila… aku tak peduli lagi siapapun yang akan memperkosaku, malah aku menjadi ketagihan, karena pengalaman ini jarang sekali kudapatkan… Pak Is berteriak padaku “Nah, lihat…. aku berjanji akan memberimu kesenangan yang terbaik di dunia.” “Dia benar….tinggalkanlah kami berdua, aku akan menikmati tubuhnya. Dia akan menjadi budak kontolku malam ini. Dan besok aku akan tinggalkan dia sebagai wanita yang teramat haus akan kontol lelaki.” Dengan tenang Uztad Mahmud berkata pada Pak Is. Pak Is sambil tertawa pergi ke ruang tamu kemudian Uztad Mahmud menutup pintu. “Mbak Mae sungguh seorang yang cantik dan mempunyai bentuk badan yang sekal dan menggairahkan.” Aku tersenyum. Aku menjadi sangat malu. Aku jadi salah tingkah. Aku malu tapi akupun menikmatinya. Aku begitu berharap pada apa yang akan terjadi berikutnya. “Betapa senangnya saya mempunyai kesempatan untuk merasakan kelegitan memek Mbak Mae... dan dapat menyetubuhi kekencangan tubuh Mbak” Uztad Mahmud berkata dan berusaha membawaku dalam pelukannya. Aku gemetar terdiam. Kemudian dia menjilati kedua kupingku dari luar karena jilbabku masih terpasang, digigitnya pelan kedua kupingku yang masih terbungkus jilbab itu, kemudian ia menaruh bibirnya pada bibirku dan mulai mencium dengan sangat bernafsu dan kasar. Sementara itu tangannya diletakkan pada pantatku dan menekan-nekannya dengan penuh nafsu. Bibir mungilku terasa sangat basah olehnya. Kemudian ia menarik dan menggigit-gigit kecil puting tetekku yang mencuat tegang. Tangannya terus menyusuri setiap jengkal tubuh mulusku, terkadang tangannya meremas gemas bagian tubuh sintalku….sedang lidahnya masih menggelendot manja, mengenyot-ngenyot kedua buah tetekku. Kini aku berhadapan dengan seorang pria jantan yang mungkin sudah sangat sering menaklukkan wanita-wanita. Sedangkan tadi malam Pak Is sanggup membuatku orgasme berkali-kali. Setelah agak lama Uztad Mahmud berusaha merangsangku, aku mulai menggelinjang-gelinjang tak karuan... Ia berbaring di sampingku dan memintaku untuk merangsangnya. Ini adalah kesempatanku untuk melayani nafsunya walaupun aku merasakan malu awalnya tetapi sekarang aku telah berhasil secara penuh merangsangnya. Dan aku mulai menggerakkan tanganku di sekujur tubuhnya. Uztad Mahmud menutup matanya dan aku mulai menciuminya. Dadanya berbulu, pahanya sangat kokoh, lebih dari itu ia adalah seorang pria jantan. Aku mencium puting susunya dan sekarang ia memulai merintih, “Okkhhhh….aaahh.....aaahhhhh.... ternyata Mbak Mae pandai menyenangkan hati lelaki.” . Sekarang aku betul-betul ingin melihat kontol beruratnya. Terlihatlah sesuatu yang luar biasa bagiku, sebatang kontol lelaki berukuran 20 cm-an lebih secara penuh menegang keras dan berurat-urat. Aku duduk di dadanya dan mulai menjilat-jilati kontolnya dengan lidahku yang basah, tanganku tidak dapat bertemu saat kucoba genggam kontolnya yang berurat itu, Ookkhh.... besar sekali kontolnya. Aku menjadi semakin bernafsu karena kontol inilah yang membuatku kelojotan tadi dan tiba-tiba terasa memekku diciumi, aku betul-betul merasakan getaran-getaran listrik yang mengalir ke sekujur tubuhku karena sentuhan lidahnya yang menyentuh klitorisku. “Aauuukkkhhhh…Hhmmm… mmpphhhhhh...hhhhh....” aku tidak sadar melenguh nikmat. Tetapi aku berusaha berkonsentrasi pada kontol besarnya. Aku mulai menjilati batang kontolnya dan menggerakkan mulutku naik turun sambil lidahku kumainkan di kepala kontolnya, aku ingin menghisapnya lebih dalam tetapi itu tidaklah mungkin dengan ukuran kontolnya yang begitu besar dan panjang dan pada akhirnya tiba-tiba kontolnya menegang, berkedut-kedut cepat dan tangan Uztad Mahmud segera menekan kepalaku yang berjilbab dan meremasnya kuat-kuat lalu menyemprotlah cairan sperma ke dalam mulutku berkali-kali bahkan saking banyaknya sampai membasahi jilbabku ini. Ccrroott.... cccroottt....crrootttttt.... “Aakkhhhh....hhhhhhh....sssshhhhhh..... Ouughhhhh.... “ desisnya Dengan penuh nafsu kutelan semua sperma yang dia berikan kepadaku, sperma dari seorang Uztad tentu saja lebih berkhasiat kan... Kemudian dengan liarnya Uztad Mahmud menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan dan kenyotan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku. “Aaaoowwwww…. Hhhmmmm.......,” aku merintih saat lidah Uztad Mahmud mulai menjilati bibir memekku kembali. “Woowww..... Mulus sekali Mbak Mae ini...., gimana sayang...? …Enak....?,” Uztad Mahmud seperti mengejekku, aku terpejam tak mampu memandang Uztad Mahmud. Lidah Uztad Mahmud semakin liar menjilat labia mayoraku, menyentil-nyentil klitorisku dan melesak masuk ke dalam memekku sehingga membuat kenikmatan tersendiri padaku. “Eeehhhhh....mmmppphhhh......,” aku menggeliat, merintih tak bisa menahan kenikmatan itu, pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah Uztad Mahmud dimemekku, aku pasrah dan menikmati permainan itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu agar kontol Uztad Mahmud segera menyodok-nyodok memekku yang sudah gatal. Tapi rupanya Uztad Mahmud sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya lebih masuk menerjang ke dalam memekku dan sesekali dipilin serta dikemutnya klitorisku dengan lidahnya yang basah dan bibirnya. Aku sudah menggerinjal tak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tak juga Uztad Mahmud menyetubuhiku. “Ookkhhh.... Nngghh.....sssshhhhhhh....aauuhhhh...aakkhh..aaahh hhh....,” aku tak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membuat pertahananku akhirnya jebol. Tubuhku mengejang hebat dan Aku orgasme dengan belasan kedutan kecil dimemekku sambil kuremas-remas sendiri tetekku. Aku malu sekali pada Uztad Mahmud yang tersenyum tapi dengan sigap, ia kembali menjulurkan lidahnya menyeruput dan menelan ledakan-ledakan air maniku dengan rakusnya. Uztad Mahmud kemudian mencium dan mengulum bibirku beberapa lama, tanpa sadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dia berusaha menempatkan posisi ujung kontolnya dibelahan bibir memekku. “Hhhmmm...., aaaggghhhh.. ....Nngghhhhhh......,” aku merintih nikmat saat kontol besar Uztad Mahmud mendesak masuk keliang memekku. “Oouuuhhh.....hhhhhh....., sudah kusangka memekmu masih rapat sayanghh....., nikmati permainan kita ya manis,” Uztad Mahmud berbisik lagi membuatku semakin melayang dipuji-puji. Kontol Uztad Mahmud keluar masuk secara teratur di memekku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar.

    say to

  2. The Following 5 Users Say Thank You to chimax For This Useful Post:


  3. #2
    Virgin herrera's Avatar

    Join Date: Nov 2008

    Posts: 42

    Thanks: 3

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    tulisannya dirapihin dong gan...
    susah bacanya...

  4. #3
    Virgin asepsetiana's Avatar

    Join Date: Oct 2011

    Posts: 29

    Thanks: 6

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Blog Entries
    1

    Default

    mantep .... sip lanjutkan

  5. #4
    Virgin loveglue's Avatar

    Join Date: Aug 2011

    Posts: 5

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Quote Originally Posted by herrera View Post
    tulisannya dirapihin dong gan...
    susah bacanya...
    betul gan, dibikin paragraf2 aja kalo bisa, biar enak

  6. #5
    Virgin parhansyah_flat's Avatar

    Join Date: Jan 2011

    Posts: 15

    Thanks: 0

    Thanked 2 Times in 1 Post

    Default

    Gan lanjutan Maemunah dan dua bandot tua (2) dan Maemunah dan dua bandot tua (1) nya kok tidak ada?

  7. #6
    Tukang Ngintip amat_aja's Avatar

    Join Date: Nov 2009

    Posts: 59

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Post

    Quote Originally Posted by loveglue View Post
    betul gan, dibikin paragraf2 aja kalo bisa, biar enak

    Lanjutan nya Gan

  8. #7
    Virgin holow's Avatar

    Join Date: May 2010

    Posts: 31

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    awal cerita nya mana nih ? kok gak ada ya?

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •